"Mbak.... aku sih suka kebayang-bayang gini. Tapi perasaan seperti itu
bikin lelah. Aku ini belum apa-apa, masih kuliah. Berat lah kalau harus
mikir yang demikian. Aku maunya nanti aja ketika segala hal sangat
siap,"
"Ya gue sih sudah siap untuk menjadi isteri, untuk memilih. Cuma susah
move on-nya. Gue barangkali demikian menyukai dia karena gue menemukan
diri gue sendiri dalam diri dia. iya sih kayaknya cengeng. but it's
happen.."
Saya sadar banget saya maupun teman tempat saya berbagi adalah manusia
yang seringnya gampang terjerat perasaan. Apalagi perempuan yang
demikian sensitif. Namun cerita semacam ini terus datang dari
sahabat-sahabat yang berbeda. Alur yang berbeda dengan inti cerita yang sama. Mengenai sulitnya liku-liku perasaan.
Saya menemukan pencerahan dalam sebuah novel islami tentang bagaimana
kita selalu membesar-besarkan masalah perasaan yang kita alami tapi
sungguh pemecahannya sudah begitu nyata. Perasaan adalah bagian dari
nafsu, maka tugas kitalah untuk meluruskannya ke jalan yang Allah sukai.
Karena perasaan yang sejati adalah kepada Allah dan karena Allah.
Jangan kalah oleh perasaan. Kita lah yang menjaga dia, kita juga yang
mestinya bisa mengendalikannya.
Sulit? ya memang. Tapi mungkin. Selalu mungkin. Jika sudah demikian
susah, kita bisa memohon kepada Allah untuk menolong kita
mengusahakannya.
Ya perasaan, aku memilikimu bukan sebaliknya. Kau kumiliki, kujaga untuk tidak tersakiti. Maka tolonglah, beradalah pada hal-hal yang Dia sukai. Bukan sebaliknya.
~
kalo aku, cerita masalah hati ke orang lain itu jarang banget, karena jarang banget ngasi solusi terbaik.. dan kadang-kadang, solusi terbaik itu dari diri kita sendiri.. selain diri sendiri, datangnya dari do'a
ReplyDelete*jadi mariyo teguh*
:')
ReplyDeleteohya... makasiiihh ya mbak buat pulsanya :*
sungguh berbahaya bila kita dikendalikan oleh perasaan, bukan kita yang mengendalikan perasaan.
ReplyDelete